INDONESIA – AMERIKA, BUKAN HANYA HUBUNGAN DAGANG

Indonesiatopline.com – Sambil menyelam, minum air. Begitulah Indonesia memainkan peran Amerika untuk membuka pintu investasi di Indonesia. Apakah suatu kebetulan, atau memang sudah direkayasa?

Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana Indonesia menantang uni eropa dengan menahan ekspor nikel dan sawit yang langsung mengguncang perekonomian eropa. Bukan tanpa perhitungan, saat ini Jokowi memainkan Indonesia menjadi negara yang paling dibutuhkan diseluruh dunia dengan cadangan nikel dan sawit yang sangat melimpah.

Ancaman embargo uni eropa dan perang dagang memang didepan mata. Namun, tak kalah arang, kita menaikan irama tersebut dengan sekutu uni eropa, Amerika Serikat. Hingga, hari ini, uni eropa diam membisu, karena AS sudah merapat ke Indonesia, tanpa dipaksa.

Pemerintah Amerika Serikat (AS), saat ini tengah mengevaluasi sekitar 124 produk ekspor asal Indonesia, termasuk tekstil, plywood, kapas ,dan beberapa hasil perikanan seperti udang dan kepiting.

Evaluasi itu dilakukan guna menentukan produk apa saja yang masih layak menerima Generalized System of Preferences (GSP), setelah rekomendasinya ditandatangani Trump sekitar November 2018 sampai awal tahun 2019.

Tapi, GSP hanyalah instrumen pembuka negoisasi Indonesia-AS. Dan perlu diketahui, seperti biasa, kebijakan moneter AS tersebut dimotori oleh bank sentral AS Federal Reserve/The Fed.

Masih segar dalam ingatan kita, diawal Covid 19 menghancurkan dunia, AS pernah menawarkan pinjaman melalui The Fed ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Saat itu, Indonesia masih belum bergeming dan berkata KITA MAMPU menghadapi pandemi.

Tapi, diluar dugaan, pintu masuk tersebut adalah barter kepentingan AS-Indonesia. Kepentingan kita sederhana :
1. Kita butuh percepatan ekonomi, dengan melakukan kerjasama dengan negara peminjam besar, salah satunya AS.
2. Kita butuh, percepatan kebutuhan Vaksin, dan hanya AS yang siap.
3. Kita butuh negara peredam uni Eropa, dan AS jawabannya.

Sebaliknya, AS juga butuh kita, melebihi kebutuhannya ke negara lain. Pasca, pandemi dan bersitegang dengan China, AS butuh banyak lahan dan komoditas, baik untuk pemulihan ekonomi atau invasi produk AS, dan Indonesia jawabannya.

Dan untuk itu, Tak tanggung-tanggung, Indonesia siapkan 3 wilayah di Jawa Tengah untuk menampung pabrikasi AS, baik pindahan dari Cina ataupun baru.

Apakah itu suatu kebetulan, atau memang sudah tersistem?

Jadi, INDONESIA-AS, bukan hanya hubungan dagang biasa. Apalagi, partai penguasa di Indonesia pun, masih perlu dana segar selain prestasi. (RED)

Berita Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!